Ayat-Ayat Cinta

Ayat-Ayat Cinta

Indonesia memang membutuhkan bacaan yang bergizi bagi masyarakatnya yang sedang berada di tengah derasnya arus budaya Barat. Suatu bacaan yang dapat membentuk kepribadian, kehalusan budi dan kemuliaan akhlak terutama bagi generasi mudanya. Mengingat generasi muda merupakan penyambung estafet perjuangan dalam mengisi kemerdekaan.

Novel Ayat-ayat Cinta ini memang sungguh berbobot dan menggugah setiap pembacanya. Why not? Ini bukan novel biasa, tapi novel yang bergizi. Perpaduan fiqh, tafsir, akhlak, kultur, sosial, dan tidak ketinggalan kisah cinta yang suci. Novel inilah yang ditunggu-tunggu oleh orang yang ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik, penuh semangat keilmuwan, keharmonisan, dan persaudaraan… Novel ini secara tidak langsung mencerminkan pribadi penulisnya sebagai seorang yang penuh pengalaman, perhatian terhadap moral masyarakat dan luas pengetahuannya. Allahu Yubarik Fiek, Kang Abik.

Membaca novel ini akan membawa kita ke Mesir, negeri seribu piramid, dengan bahasa yang sangat deskriptif. Pembaca diperkenalkan dengan kehidupan Mesir yang benar-benar dalam bentuk kesehariannya. Mulai dari musim panasnya sampai dengan hobi masyarakatnya yang senang football. Bagaimana seni tawar-menawar untuk mendapatkan suatu barang di pasar-pasar Mesir dengan harga miring. Cara menyapa seseorang agar lebih akrab dengan panggilan Ya Kapten, Ya ‘Amm, atau Ya Hajj. Atau cara meredam amarah orang-orang Mesir yang keras kepala dengan mengucapkan kepada mereka Shallu ‘alan Nabiy. Saya yang sejak duduk di bangku Tsanawiyyah sudah berkeinginan sekali untuk belajar di Mesir, karena membaca suasana Mesir yang begitu kental ini, jadi terdorong untuk lebih sungguh-sungguh lagi dalam mencapai niat tersebut.

Novel ini juga penuh dengan atarashi kotoba (kosa kata baru), khususnya bagi saya. Terutama kosa kata yang ‘am (yang dipakai masyarakat dalam percakapan sehari-hari, bukan bahasa baku). Bahkan dalam filmnya sering digunakan kata-kata seperti Fieh, Tarafein, dan Istanna Suwayya. Saya ingat waktu saya belajar bahasa arab dengan seorang ustadz jebolan Al-Azhar. Saya bertanya kepada beliau Ila ayna tadzhab apa bahasa ‘am Mesirnya. Beliau menjawab tarafein. Juga kata-kata lain seperti Ruzz bil Laban, Ashir, Firoh Masywi, Suthuh sungguh dapat membantu dalam menambah kosa kata. Maklumlah, bukan tamatan Ma’had. Tidak hanya Lughah el-‘Arabiyyah, bahasa Deutsch juga sedikit diangkat dalam novel ini, Sprechen Sie Deutsch?.

Hal lain yang diungkap melalui novel ini adalah bagaimana seharusnya memperlakukan orang-orang non-Muslim. Islam adalah agama Rahmatan lil ‘Alamin, semua manusia tanpa terkecuali akan merasa aman di bawah pemerintahan Islam. Saling tolong menolong dalam urusan duniawi adalah diperbolehkan selama itu menyangkut kemaslahatan bersama. Rasulullah Muhammad, sebagaimana dikutip dalam Sirah Nabawiyyah karya Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, mengadakan perjanjian dengan orang-orang Yahudi yang dikenal dengan Piagam Madinah. Isi perjanjian itu antara lain adalah kebebasan dalam beragama, saling tolong menolong dan terjaminnya hak atas harta. Agaknya kita tidak perlu panjang lebar mambicarakan hal ini, semua sudah dijelaskan oleh Fahri. Ada satu hal yang harus kita ingat dari ucapan Fahri ketika orang-orang Mesir itu bersikap kasar: “Justru tindakan kalian yang tidak dewasa seperti anak-anak ini akan menguatkan opini media massa Amerika yang selama ini beranggapan orang Islam kasar dan tidak punya pri-kemanusiaan.”

Dari sudut pandang tafsir, novel ini membahas huruf-huruf Muqaththa’ah seperti Alif-Lam-Mim, Kaf-Ha-Ya-‘Ain-Shad, dan Ya-Sin. Huruf-huruf ini pun sering disebut dengan Fawatih Suwar. Huruf-huruf ini sering menjadi alasan bagi orang-orang yang benci terhadap Islam untuk membuat keraguan atas kemurnian al-Qur’an. “Seandainya al-Qur’an itu benar diturunkan dari Tuhan, lalu untuk apa huruf-huruf yang tidak bermakna dan tidak berguna itu tertulis dalam Mushaf?”, begitu kata mereka.

Sebenarnya huruf-huruf ini mempunyai hikmah tersendiri. Di antaranya, sebagaimana termaktub dalam “Ilmu-ilmu al-Qur’an” karangan T.M Hasby as-Shiddiqy, adalah untuk menunjukkan kepada bangsa Arab bahwa al-Qur’an diturunkan dengan huruf-huruf yang mereka kenal dan merupakan bukti kelemahan mereka untuk mendatangkan susunan kata yang menyerupai al-Qur’an.

Selain itu, huruf-huruf ini berfungsi sebagai tanbih sebelum memulai pembicaraan. Orang-orang kafir menganjurkan supaya tidak mendengarkan al-Qur’an sewaktu Nabi membacanya, Allah berkehendak untuk menarik perhatian mereka dan mendatangkan kepada mereka sesuatu yang mereka tidak ketahui maknanya sehingga mereka diam dan mendengar apa yang dibacakan.

Fawatih Suwar merupakan keindahan tersendiri yang merupakan salah satu aspek kemukjizatan al-Qur’an. Orang yang benar-benar menghayati isi kandungan al-Qur’an akan merasakan keindahan tersebut walaupun makna hakiki darinya tidak dapat diketahui secara pasti karena termasuk ke dalam kategori Mutasyabihat. Betul kata Maria.

Cinta?, jangan ditanya. Novel ini melukiskan kisah cinta yang indah, penuh keromantisan, keharmonisan, perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, dan ketabahan. It’s the true love, cinta yang diungkap dalam novel ini benar-benar harus menjadi contoh bagi cinta-cinta lainnya di muka bumi. Cinta yang tumbuh setelah menikah, betapa suci, indah, dan diridhai. Ridha Allah juga ridha Rasulullah.

Tidak ada pacaran sebelum menikah, yang ada dalam Islam hanyalah ta’aruf. Jodoh memang rahasia Tuhan. Belum tentu pacar kita akan menjadi istri atau suami kita. Betapa indahnya jika bertatap muka di saat ta’aruf. Bagaikan bertemu bidadari yang dipingit dalam rumah. Ketika membaca bagian ini, hati saya jadi ikut berbunga-bunga.

Cinta tidak selamanya berupa kesenangan di awal pernikahan saja. Cinta juga penuh dengan rintangan dan badai, wajah yang dulu masih segar dan cantik, beranjak keriput. Jika sudah punya dua anak, tiga, lima, betapa sulit mengasuhnya. Orang yang saling mencintai akan diuji kekompakannya dalam mengasuh anak-anak mereka itu. Atau sampai di mana orang yang saling mencintai bersabar tehadap cobaan yang menimpa mereka. Sebagaimana Fahri yang difitnah, sampai dimana Aisya bersabar terhadap apa yang menimpa dirinya. Ini benar-benar cobaan yang berat, bayangkan saja, mereka baru saja menikmati bulan madunya di flat ‘Aisya yang mewah, eh tak taunya polisi datang menangkap Fahri.

Namun lebih dari itu adalah cinta kepada Allah Sang Cinta. Cinta kepada pasangan hidup boleh-boleh saja, tapi ingat, tujuannya adalah ridha Allah. Cintailah Allah melebihi cintamu kepada siapa pun. Betapa beratnya bangun di malam hari untuk tahajjud, padahal kita sedang berada di samping seorang istri yang cantik. Atau betapa beratnya meninggalkan istri dan anak-anak untuk memenuhi seruan Allah untuk berjihad. Begitu juga dengan istri, betapa berat terasa dalam hati melepaskan seorang pria yang saleh, tampan, pintar, penyayang dan merupakan tulang punggung rumah tangga untuk berjihad dan syahid di medan pertempuran. Di sini akan ketahuan sebarapa dalam cintanya kepada Allah.

Dialah yang sempurna, tidak ada yang lebih sempurna selain diri-Nya. Allah itu mencintai hamba-Nya lebih dari hamba yang mencintai-Nya. Ia selalu ada menemani, memberikan perhatian, mengabulkan permintaan, mengampuni dosa. Fa bi ayyi ala-I rabbikuma tukadzdziban. Allah juga bisa romantis koq, ingat kalam-Nya: “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”

Ya Allah, berikanlah kami pasangan-pasangan yang Engkau ridhai untuk menjadi pendamping. Jadikan pula kami saling mencintai karena-Mu. Dan jadikan cinta kami kepada-Mu melebihi cinta kami kepada yang lain.

Sebenarnya masih banyak pelajaran yang dapat di ambil dari novel ini namun tidak dapat dijelaskan di sini. Sekian ulasannya, dan sekali lagi Allah Yubarik Fiek, Kang Abik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: