Ketika Cinta Bertasbih

Saya belum lagi selesai menghabiskan bacaan saya terhadap “Ketika Cinta Bertasbih” kerena kesibukan saya dalam membaca beberapa buku mengenai tanda-tanda sa’ah dan meneliti berbagai peristiwa yang diberitakan berbagai media berkaitan dengan itu. Saya hanya dapat mencari waktu senggang untuk membaca novel. Tetapi saat sampai di pertengahan episode 2 dari novel ini, hati saya meluap, tangan saya gatal ingin menulis, mata saya menangis. Saya hanyalah penulis pemula yang mungkin belum berbobot tulisannya. Saya akan memaparkannya secara subjektif. Dan insyaallah akan dipaparkan lebih profesional di masa yang akan datang.

Walaupun saya baru membaca hingga pertengahan episode 2, saya sudah dapat menangkap sesuatu yang membuat saya terhenyak, kaget, gembira sekaligus sedih, sehingga tidak tahan lagi untuk segera menuliskannya. Saya sungguh terharu. Jantung saya berdebar, hati saya juga berdesir, mata saya menangis membaca novel ini, saya seperti berada dalam novel ini. Saya seperti melihat setiap adegan dengan jelas dengan mata saya.

Tidak seperti Ayat-Ayat Cinta yang terasa sangat dewasa sekali, hingga saya seolah benar-benar menjadi dewasa, Ketika Cinta Bertasbih dapat membawa saya membaca dalam keremajaan saya (saya masih 18 tahun lho, masih duduk di bangku kelas 3 Madrasah Aliyah).

Mungkin yang ditanggapi secara antusias oleh teman-teman seusia saya, yang sebenarnya masih berbunga-bunga dengan cinta, adalah setiap yang membicarakan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Itu juga yang saya rasakan. Tapi tahukah teman-teman sekalian bahwa sebenarnya apa-apa yang dipaparkan dalam novel ini mengenai hubungan itu memancarkan aura-aura kesucian…

Pertemuannya dibalut dengan nuansa khas yang tidak dimiliki novel remaja umumnya. Nuansa itu dapat kita rasakan dari cara interaksi setiap tokoh muslim dan muslimah dalam novel ini. Bagaimana mereka menanggapi cinta sebenarnya yang penuh penantian, tantangan, pengorbanan, kesabaran dan keikhlasan. Dan bahwa cinta itu bukan seperti apa yang kita (para remaja) definisikan selama ini. Hanya sekedar bersenang-senang menikmati kejelitaan dan ketampanan lawan jenis. Tetapi cinta itu sendiri lebih luas makananya, universal.

Saya, ketika membaca adegan penolakan lamaran Azzam oleh Ustad Mujab, benar-benar merasakan seperti apa yang dirasakan Azzam, kaget, terhenyak, kecewa dan menyakitkan. Jawaban Ustad Mujab memang di luar sangkaan. Saya tidak menyangka jawabannya akan se-menyakitkan itu. Coba bayangkan, seseorang seperti Anna Althafunnisa, Anna Wanita Yang Paling Lembut, yang cantik, pintar, kaya, anak seorang kiai, dan shaliha, siapa yang tidak menginginkannya?. Semua lamaran datang kepadanya. Tetapi ketika saya berusaha mendapatkan Anna, sang bidadari dunia dan akhirat, ketika itu pula usaha saya dienyahkan, ditolak, dan dikesampingkan kerena saya hanyalah penjual bakso dan tempe yang sudah sembilan tahun tidak juga menyelesaikan S1 nya. Saya betul-betul kecewa.

Saya pikir Azzam akan mencoba bunuh diri atau menjadi “gila” setelah pulang dari melamar, tetapi ternyata tidak. Semangatnya malah bertambah, menuju klimaks dan makin giat belajar dan bekerja. Yang ia ingat saat itu adalah keluarganya di Indonesia, bagaimana dengan ibu dan adik-adiknya. Masyaallah, masyaallah, ternyata kehilangan wanita shalihah pun tidak membuatnya putus asa dan lemah.

Saya menangis. Saya tersungkur sujud, dan saya tahu kalau saya tidak berlebihan menanggapi novel ini. Pikiran saya terbuka saat saya sujud, seolah Allah membuka hati saya seluas-luasnya untuk melihat Sang CINTA. Allah seolah berkata, “Inilah cinta, inilah cinta.” Dan saya tahu, masih banyak makna cinta yang belum saya mengerti.

Saya, sebagaimana Azzam, juga sangat menginginkan cinta saya menyatu dengan cinta seorang muslimah shaliha seperti Anna Althafunnisa. Dibalut dengan keridhaan Allah. Kalau bisa saya umpakan adalah seperti “gula dan air menyatu dalam sebuah gelas keridhaan-Nya dan tidak akan pernah hilang manisnya, juga tidak akan pernah tumpah.”. Itu sangat indah dan menakjubkan. Tetapi jika cinta saya ternyata tidak bertemu dan menyatu dengan wanita shaliha yang saya cintai dan sangat saya cintai, bagaimana? Tentu sangat mengecewakan, menyakitkan.

Ternyata cinta kepada wanita se-shalihah apapun mempunyai dua kemungkinan, diterima atau ditolak. Inilah rahasia-rahasia Ilahi yang tidak dapat kita tanggapi kecuali dengan perenungan yang kontinyu dan berkesadaran sangat tinggi. Mungkin sebagian kita akan berkata, “Ya Allah, selangkah lagi aku akan mendapatkan bidadari dunia dan akhirat, yang akan mengantarkan aku ke singgasana-Mu. Mengarungi kehidupan dengan cinta yang suci. Merawat pohon cinta kami hingga akar-akarnya semakin kuat di hati kami dan berbuah bayi-bayi mungil dan suci yang akan kami rawat dan didik untuk menjadi pejuang-pejuang-Mu. Tetapi mengapa Engkau gagalkan, Engkau hancurkan dan hentikan langkahku itu? Mengapa Ya Allah, mengapa?”

Alhamdulillah, sebelum membaca novel ini, saya sudah pernah membaca sebuah novel berjudul “Iblis Menggugat Tuhan”. Saya mengerti bahwa Allah memiliki kekuasaan tidak terbatas dan mutlak terhadap kebaikan dan kejahatan. Begitu juga ia memiliki kekuasaan mutlak untuk menyatukan dan memisahkan. Ketika saya merasakan apa yang dirasakan Azzam, yang muncul di benak saya adalah betapa besar Allah, betapa kuasa dan berkehendak. Keinginan kita sangat kecil dan lemah, sedangkan keinginan-Nya sangat kuat dan mengalahkan keinginan siapapun.

Allah, Segala Puji Bagi-Nya, adalah Sang Penulis skenario perjalanan kehidupan setiap manusia. Karena Dia tahu yang terbaik bagi diri kita, maka yang hanya dapat kita katakan terhadap kekecewaan kita hanyalah,

“Ya Allah, Engkau lah Yang MahaMengetahui dan berkuasa. Di sisi-Mu segala persoalan akan kembali. Betapa lemahnya aku, betapa nista. Tak pantas aku menggugat-Mu, aku hanyalah manusia kecil berlumur dosa, yang tidak mengerti apa makna ini semua. Ya Allah, betapa cintaku kepadanya telah membutakan hatiku. Aku tahu bahwa cinta itu tidak selamanya harus memiliki. Cinta itu adalah ciptaan-Mu, maka Engkau pula yang berhak menyatukan cinta. Betapa rendah dan bodohnya aku yang tidak mengerti akan cinta-Mu. Cinta “Anna” tidak berarti apa-apa dibandingkan cinta-Mu. Engkau pasti cemburu jika aku menggugat-Mu. Engkau pasti akan berkata, “Mengapa engkau sangat mencintainya dan melupakan cinta-Ku, padahal Aku lebih berjasa daripada “Anna” dalam menghidupimu.” “

Saya menangis saat mengucapkan ini. Saya benar-benar merasa paling bodoh dan paling hina. Jika Allah benar-benar mengatakan sebuah perkataan dengan jelas, lantang dan nada cemburu, sebuah perkataan seperti ini,

“Mengapa engkau sangat mencintainya sehingga berani menggugat-Ku seperti itu? Bukankah Aku yang telah menghidupimu, mengasuhmu dari kecil hingga sekarang. Sedangkan “Anna”, wanita shalihah dalam pandanganmu itu, apa yang telah ia berikan dan sebesar apa? Mengapa engkau sangat mencintainya hingga lupa untuk mencintai-Ku. Aku hanya satu di alam semesta ini, Aku Yang MahaEsa, cinta-Ku lah yang lebih layak engkau cari dan pinta. Sedangkan wanita shaliha seperti “Anna” bisa Aku ciptakan puluhan, ribuan bahkan jutaan orang persis seperti dia hanya dalam satu kali ucapan-Ku. Atau akan Aku remukkan “Anna” di depan matamu, se-shaliha apapun dia, engkau mau berbuat apa?”

Jika Allah berkata seperti ini, dan saya berlindung dari murka Allah, saya akan remuk dan hancur menjadi abu. Betapa dahsyat kecemburuan Allah karena cinta-Nya kepada hamba-Nya. Allah juga ingin dicintai dengan cara tetap teguh dalam menyembah-Nya tidak digoyahkan oleh faktor apapun.

Yang dapat saya pahami adalah betapa cinta kepada wanita shaliha pun tidak boleh lebih besar daripada cinta kepada-Nya. Apa tanda cinta kita lebih besar kepadanya daripada kepada-Nya? Kita tidak ikhlas bila “Anna” ternyata tidak disatukan dengan diri kita sendiri. Kita tidak ikhlas menerima kepergian “Anna” dari hati kita. Kerena memang dia bukan jodoh kita, dan bukan jodoh itu adalah kehendak Allah juga. Dan bagaimana kita mencintai-Nya. Yaitu dengan cara ikhlas terhadap ketentuan Allah bahwa “Anna” tidak ditakdirkan berada dalam belaian kita.

Dalam hemat saya, jalan inilah yang diambil Azzam. Jalan untuk tetap ikhlas dalam menerima keadaan dirinya, ikhlas untuk melepaskan wanita shaliha yang sangat dicintai dan diharapkannya. Ikhlas, ikhlas, dan ikhlas. Namun setelah saya baca sekilas ternyata Azzam jadi juga menikah dengan Anna. Waduh, Selamat Ya. Keikhlasanmu dulu ternyata dibalas oleh Allah dengan kebaikan.

Masih banyak yang saya belum mengerti tentang cinta yang sebenarnya. Masih banyak pula yang belum saya pelajari. Begitulah yang dapat saya tangkap dari novel ini, dan untuk masa yang akan datang saya akan mencoba mengulasnya lebih dalam dan objektif.

Ya Allah, pertemukanlah cintaku dengan cintanya di pelaminan surga. Jadikanlah cintaku suci dan abadi dalam balutan keridhaan-Mu dan manis bibirnya.

Akhir kata saya mengucapkan “semoga Allah memberkahimu, Kang Abik, atas apa yang telah dan sedang engkau tulis.”

One thought on “Ketika Cinta Bertasbih

  1. DIAN SISWANTO mengatakan:

    SAYA JUGA SETUJU DENGAN KANG ALFI, SOSOK FIGUR SEPERTI AZZAM SANGAT JARANG KITA TEMUKAN DI DUNIA INI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: